
Pada pertengahan April 2026, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) melalui berbagai portal berita nasional diberitakan membuka lowongan kerja untuk posisi manajer KDMP dengan total lowongan sebesar 30.000 formasi (Dirgantara dkk., 2026). “Mereka yang lolos seleksi akan menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama dua tahun,” ucap Zulkifli Hasan kepada media melalui laman berita Kompas pada 28 Maret 2026.
Para pelamar tidak dibatasi berdasarkan asal jurusan. Jenjang pendidikan minimal yang menjadi kriteria adalah D3, D4, atau S1 dari semua jurusan, dengan Indeks Prestasi Kumulatif minimal 2,75 dan batas usia maksimal pendaftar adalah 35 tahun.
Namun, program yang bermanfaat ini tidak menutup kemungkinan munculnya sejumlah permasalahan. Zulkifli Hasan pada Senin, 4 Mei 2026, menyebutkan, “Saya juga harus bicara tegas soal penipuan yang marak, ya. Ada oknum-oknum yang mengatasnamakan Kopdes Merah Putih menyebar link palsu.” Penipuan tersebut termasuk adanya pungutan biaya agar pelamar dapat langsung lulus tanpa seleksi. “Bahkan memungut biaya, memungut biaya, minta uang, bayaran ya,” ujar Zulhas.
Kritik juga disampaikan oleh anggota Komisi VI DPR RI, Adisatya Suryo. Ia mengungkapkan bahwa rekrutmen yang dilakukan secara tersentralisasi seperti ini harus tetap mewaspadai praktik-praktik nonprofesional yang dapat merusak kualitas sumber daya manusia di desa tempat penempatan manajer tersebut (Hutasoit, 2026).
Pada media sosial, pelaksanaan tes tulis yang dilakukan secara bersamaan di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya pada Rabu, 20 Mei 2026, juga ramai diperbincangkan. “Pelamar yang dinyatakan memenuhi syarat administrasi sebanyak 483.648 orang,” tutur Zulhas. Sebanyak 483.648 pelamar melaksanakan tes lanjutan di Stadion GBT tersebut. Dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai permasalahan, mulai dari kertas soal dan kertas jawaban yang didapatkan secara berebut, waktu menunggu dan pelaksanaan yang lama, peserta yang berangkat mengikuti tes sejak pukul delapan pagi dan pulang sekitar pukul enam sore, absensi yang masih dilakukan secara manual, hingga jumlah pengawas yang tidak sebanding dengan banyaknya peserta, yaitu hanya dua orang pengawas tes.