Who’s Next??

Halo, Kopmania…
Tinggal menghitung hari nih menuju 2017…
Tau artinya???
Berarti udah mau RAT aja nihh…
Itu berarti juga, tinggal menghitung hari pula untuk menyambut Ketua Umum Koperasi “Kopma UGM” selanjutnya…

Siapa aja ya kandidatnya???
Nantikan postingan selanjutnya…

#AkuCintaKoperasi #Aciko

Similar Posts

  • |

    Ada Cerita Apa selama WFH dan SFH?

    sumber foto: m.tribunnews.com

    Tidak terasa sudah tiga bulan lamanya kita #dirumahaja, menjalani aktivitas dalam kenyamanan rumah yang senantiasa membuat diri ini males gerak. Akibat pandemi Covid-19 yang belum kunjung reda, pembatasan sosial masih harus dilakukan demi kebaikan bersama. Kegiatan #dirumahaja yang dilakukan hampir sebagian besar penduduk dunia, memiliki ceritanya masing-masing. Banyak kejadian baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, dirasakan para pekerja dan pelajar yang menjalani rutinitas kerja dan belajar secara online. Dilansir dari beragam sumber, berikut beberapa kejadian yang sering terjadi dan dialami banyak orang selama kegiatan WFH dan SFH.

    1. Kuliah dan bekerja dengan baju tidur

    sumber foto: blog.spacetock.com

    Hal pertama ini mungkin terdengar sebagai sebuah dampak positif. Pasalnya, kegiatan dari rumah yang dilakukan, membuat kita tidak perlu lagi menyita waktu dalam urusan menata busana. Mulai dari urusan menyetrika, memilih model atau gaya, hingga mix and match warna akan menyita banyak waktu bersiap kita setiap harinya. Namun untuk sekarang, hal itu tidak akan sering dilakukan. Baju ternyaman yang dipakai sehari-hari bisa menjadi pilihan terbaik dalam menjalani rutinitas bekerja dan belajar dari rumah. Berkemeja tapi bawahan boxer, dasteran atau sarungan tentu bisa dikenakan, karena siapa pula yang akan memerhatikan top to toe kita selama di rumah, selain anggota keluarga, atau tetangga yang tidak sengaja melirik.

     

    1. Mandi? Rasanya tidak perlu

    sumber foto: Lifestyle.kompas.com

    Mandi pagi hari menjadi kewajiban yang tidak sepatutnya dilewatkan ketika hendak pergi ke sekolah, kampus atau tempat kerja. Biasanya kita dituntut untuk bangun dan bersiap lebih awal, untuk sekadar mandi, menghilangkan kantuk.  Tapi, selama #dirumahaja, rasanya mandi bisa saja dilewatkan. Mandi pagi yang terlalu menyita waktu tidur, akan diabaikan. Begitu pula mandi sore yang terkadang tidak diingat karena terlalu asik bergulat dengan pekerjaan. Urusan penghematan air bisa jadi alasan lain yang kerap dikumandangkan. Perlu diingat karena #dirumahaja, teriakan ibu sebagai sirine suruhan mandi, kadang terdengar di setiap sudut rumah.

     

    1. Presensi penuh, rebahan tetap jalan

     

    sumber foto: Liputan6.com

    Sebagai pelajar dan pekerja kantoran, presensi adalah hal penting yang tidak bisa dilewatkan. Begitu pentingnya, sampai ketika presensi bolong satu saja, rasanya seperti kehilangan satu nyawa. Selama #dirumahaja presensi di beberapa instansi masih diberlakukan, oleh karena itu urusan presensi masih diutamakan. Tapi lagi-lagi, sebagai manusia yang punya akal dalam bertahan hidup dengan nyaman, urusan presensi ini bukan lagi perkara memberatkan. Tidak perlu bangkit dari tempat tidur, lakukan presensi seperti yang seharusnya, baik dengan berkirim pesan “Selamat pagi semuanya, siap berkuliah” atau “Selamat pagi, saya hadir”. Presensi dulu, kemudian lanjut rebahan, sepertinya banyak dilakukan para pelajar nih.

     

    1. Presentasi ditemani anggota keluarga

    sumber foto: Inet.detik.com

    Kegiatan presentasi dengan platform video conference biasa dilakukan dalam proses belajar ataupun bekerja. Ketika melakukan presentasi selama #dirumahaja, terkadang gangguan datang tidak hanya dari koneksi internet yang putus nyambung, namun kerap datang dari kegiatan anggota keluarga lainnya yang menimbulkan suara bising. Bayangkan saja, ketika hendak mengaktifkan mikrofon dan kamera pada platform video conference, yang terjadi adalah teman-teman lain akan turut menyaksikan keributan dalam rumah dan keluarga kita. Anak yang merengek, ibu yang mengomel, saudara yang berisik saat main games hingga gangguan suara hewan peliharaan, turut bergabung dalam presentasi kerja atau belajar yang kita lakukan.

     

    1. Akrab dengan WAG, Zoom, Google Meet, Webex, dkk

    sumber foto: Edura.id

    Karena kecanggihan internet kita tetap dapat berjumpa secara maya tanpa batas ruang dan waktu. Berbagai aplikasi membantu kita dalam berkomunikasi dengan rekan kerja atau di kuliah dan sekolah. Para pengajar memanfaatkan ruang chat di WhatsApp atau aplikasi lainnya untuk mengisi pembelajaran. Aplikasi video conference seperti Zoom, Webex, dan Google Meet banyak dimanfaatkan dalam pertemuan tatap muka. Ke depannya kita dipaksa beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan pemanfaatan teknologi guna menjalankan kehidupan secara normal walaupun secara online di ruang maya. Bisa jadi, karena adanya pandemi ini, kita tidak lagi asing dan malah semakin akrab dengan teknologi

    Momen atau kejadian seperti di atas dapat menjadi kenangan tersendiri kelak ketika kita sudah mulai kembali menjalani rutinitas seperti sebelum pandemi. Kegiatan pembelajaran, dan pekerjaan yang dilakukan melalui jejaring internet, membuat kita semakin menyadari kehadiran ruang maya yang menjadi bagian realitas dunia. Patut disyukuri karena sekarang ini kita telah bisa melakukan apa saja dengan tetap di rumah, karena bantuan internet. Tetap betah #dirumahaja untuk sementara ini iya, agar kelak kita bisa bertemu secara langsung. Agar rindu ini dapat dilepas di ruang rindu yang nyata, bukan lagi sekadar maya.

    (Ayu Pratiwi)

  • Stock Opname

    Halo Anggota

    Mohon Maaf
    Swalayan Koperasi “Kopma UGM” akan tutup sementara mulai tanggal 29 Desember 2017 – 31 Desember 2017 dalam rangka Stock Opname.
    Swalayan Koperasi “Kopma UGM” akan buka kembali tanggal 1 Januari 2018.

    Terima Kasih

  • Kopma Polines Kunjungi Koperasi “Kopma UGM”

    Yogyakarta – Koperasi Mahasiswa Polines (Politeknik Negeri Semarang) kunjungi Koperasi “Kopma UGM” pada Sabtu (27/2), bertempat di Ruang Sidang Koperasi “Kopma UGM”. Rombongan Kopma Polines yang berjumlah sekitar enam puluh orang disambut baik oleh Kepengurusan-Staf Koperasi “Kopma UGM”.

    Kopma Polines disambut oleh Woro Imas Pangestiti dan Nofita Ngaisaroh selaku Staf Humas dan Gerakan Koperasi “Kopma UGM”. Acara dilanjutkan dengan sambutan ketua umum serta pengenalan Kepengurusan-Staf dari masing-masing kopma. Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kemudian dilanjutkan dengan keliling divisi usaha yang terdapat di Koperasi “Kopma UGM”.

    “Saya sangat senang Kopma Polines dapat berkunjung ke Koperasi “Kopma UGM”, dengang adanya kunjungan tersebut kami dapat saling bertukar informasi, baik dari Kopma Polines kepada Koperasi “Kopma UGM” maupun sebaliknya,” Ujar Woro Imas Pangestiti selaku Staf Humas dan Gerakan Koperasi “Kopma UGM”.

  • |

    Belanja Baju Murah, Bahaya untuk Lingkungan?

    Pada zaman sekarang, siapa, sih, yang gak pernah berburu baju murah? Semua orang pasti menginginkan untuk tampil lebih perecaya diri dengan outfit yang sedang trend di media sosial. Tidak heran, banyak anak muda zaman sekarang semakin konsumtif untuk membeli pakaian baru hampir setiap minggu agar dapat mengikuti perkembangan trend dan dapat berfoto cantik di tempat yang aesthethic demi memenuhi kebutuhan konten. Apalagi, pola belanja semacam ini sekarang sangat terfasilitasi dengan adanya perkembangan teknologi. Berburu baju murah bukan lagi hal yang sulit karena dapat dilakukan hanya dengan layar handphone saja. Potongan harga besar-besaran dan gratis ongkos kirim (ongkir) yang menggiurkan juga dapat diperoleh ketika berburu pakaian melalui pasar daring atau E-commerce, misalnya Shopee. Dengan adanya kemudahan tersebut, konsumen tidak perlu repot untuk pergi ke toko secara langsung karena kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan sudah dapat ditemui di toko daring.

    Pernahkan muncul pertanyaan, kok bisa, sih, toko-toko online menjual pakaian dengan harga yang jauh lebih murah daripada di toko offline? Kondisi ini dinamankan fast fashion yaitu konveksi menyediakan pakaian murah dengan jumlah yang sangat besar untuk memenuhi pola belanja masyarakat yang sangat dinamis. Kemunculan fast fashion mendukung gaya hidup konsumtif karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan pakaian rancangan langsung dari desainer. Selain itu, konsumen menjadi tidak dapat mengontrol kebutuhan dan pengeluarannya dalam pembelian pakaian, khususnya secara daring. Namun, kemudahan ini tidak sealamanya mendatangkan dampak yang positif bagi konsumen dan lingkungan, justru dapat mendatangkan malapetaka bagi lingkungan.

    Apa dampaknya? Dampak yang terjadi adalah pencemaran lingkungan yang sangat masif, bahkan fast fashion menjadi salah satu akibat pemanasan global paling signifikan di masa sekarang. Hal ini terjadi karena kualitas bahan baku dan proses pembuatan produk yang buruk, itulah mengapa barang-barang murah yang dibeli dari E-commerce tidak akan bertahan lama dan hanya bagus di awal saja. Warna-warna cerah, motif, dan tekstur kain yang menjadi daya tarik industri fashion diperoleh dari bahan kimia beracun yang dapat mencemari air. Selain itu, bahan baku kain yang digunakan biasanya adalah kain berbahan dasar petrokimia seperti poliester dan sintetis dengan pertimbangan harga yang sangat murah. Sayangnya, ketika baju dicuci, kain poliester akan melepaskan microfiber (microplastic) yang akan larut dalam air bekas cucian dan kemudian mencemari berbagai macam tempat yang dilewati air tersebut. Fast fashion juga menghasilkan emisi karbon dalam proses produksi dan distribusinya. Misalnya, distribusi bahan mentah antar negara dan distribusi pakaian yang sudah jadi ke seluruh penjuru dunia dengan kapal yang kemudian dikirim ke pengecer melalui truk dan kereta api. Proses tersebut dilakukan hampir setiap waktu sehingga dapat dibayangkan betapa banyak emisi gas yang terjadi.

    Lalu bagaimana solusinya? Solusi yang tepat adalah dengan menghentikan budaya membeli pakaian yang konsumtif. Kegiatan konsumsi pakaian haruslah dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan tidak hanya untuk mengikuti trend belaka. Pembalian pakaian lebih disarankan untuk membeli dengan kualitas tinggi sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan tidak menyebabkan dampak lingkungan yang buruk atau disebut slow fashion, misalnya membeli kemeja flanel yang berbahan dasar 100% katun organik. Memang, harganya akan jauh lebih tinggi dalam satu kali pembelian, tetapi apa bedanya dengan mengeluarkan sedikit uang dalam frekuensi yang sering? Maka dari itu, ayo kita sama-sama hentikan industri fast fashion dan lebih bijak dalam berbelanja.

  • “Open Mic” – Perayaan HUT Gugus Komunitas Speaking Club

    Yogyakarta – KOPMA UGM, dalam rangka mensosialisasikan pentingnya public speaking yang baik serta mengasah kemampuan para anggota Koperasi “Kopma UGM” untuk tampil dan berbicara di depan publik, gugus komunitas Speaking Club (SC) mengadakan acara “Open Mic” pada hari Sabtu (6/6). Lebih dari itu, acara ini merupakan acara peringatan hari ulang tahun gugus komunitas SC yang ke-17. Bertempat di ruang anggota, acara ini diikuti oleh kurang lebih 20 peserta.

    “Dalam acara ini, kami memberikan kesempatan kepada peserta untuk unjuk kebolehan di bidang speaking, apapun itu.” ungkap Riski Primadona Aji selaku salah satu penyelenggara. Acara diawali dengan penampilan para peserta yang dibebaskan untuk menampilkan apapun. Banyak dari peserta yang kemudian tampil menyanyi, stand up comedy serta ada pula yang menampilkan kebolehanya dalam berhipnotis. Pada sesi berikutnya, acara diisi dengan sambutan dari bidang Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA) serta ketua SC. Kemudian acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama.

    “Harapan kedepan semoga SC dapat semakin berkembang dan terus menjadi gugus komunitas yang mewadahi dan mengembangkan minat anggota di bidang public speaking” ungkap Arief Ardiasmoro selaku salah satu pengurus gugus komunitas Speaking Club. (Novi Isnaeni / Humas dan Gerakan Koperasi “Kopma UGM”)