Koperasi “Kopma UGM” Raih Juara 1 Lomba Tangkas Terampil Perkoperasian

Yogyakarta, KOPMA UGM – Lomba Tangkas Terampil (LTT) Perkoperasian tingkat regional Sleman kemarin (16/4) menghasilkan tim delegasi Koperasi “Kopma UGM” sebagai juara 1. Lomba tahunan yang diadakan oleh Dinas Perindustrian dan Perkoperasian kabupaten Sleman ini dilaksanakan di Kantor Bappeda, Sleman dengan peserta berasal dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri di regional daerah Sleman.

Materi yang dilombakan di LTT Koperasi ini meliputi pengetahuan umum koperasi, sejarah koperasi indonesia dan dunia ,ekonomi syariah, akuntansi, serta undang-undang perkoperasian. Secara keseluruhan, LTT Koperasi terdiri dari tiga sesi yaitu pertanyaan wajib, pertanyaan lemparan dan pertanyaan rebutan. Dari skor masing-masing sesi kemudian diakumulasi menjadi nilai akhir yang menjadi penentu siapa yang akan menjadi pemenang. Dari keseluruhan sesi, tim delegasi Koperasi “Kopma UGM” yang terdiri dari Nabiila Nurfitri, Anwar Danu Saputra dan Sulistyowati berhasil mengumpulkan skor tertinggi diantara tim lainya yaitu sebanyak 1700. Kemudian disusul Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dengan skor 1200 dan Universitas Yogyarakarta sebanyak 900 yang masing-masing mjuara kedua dan ketiga. Pemenang dari LTT ini nantinya akan mewakili Sleman di LTT Koperasi tingkat provinsi bulan Mei mendatang.

It was a tough game, kelihatan banget semangat teman-teman dari ke-empat universtas lain untuk belajar koperasi dan bisa menjadi wakil sleman untuk ke DIY. Buat Kopma, aku harap bisa mengulang sejarah menjadi yang terbaik di tingkat DIY” ucap Nabiila Nurfitri selaku salah satu peserta LTT. (Humas dan Gerakan Koperasi “Kopma UGM” / Novi Isnaeni)

Similar Posts

  • Suksesi Gugus Gerakan Cinta Koperasi “Kopma UGM” 2015

    Yogyakarta-Gugus Gerakan Cinta Koperasi “Kopma UGM” kembali mengadakan suksesi pada Kamis (17/12) untuk memilih ketua baru. Acara yang bertempat di ruang anggota Koperasi “Kopma UGM” ini diikuti oleh internal dan alumni GCK. Sebelum memasuki acara inti, diadakan bincang-bincang ringan yang bertujuan untuk memperjelas gambaran GCK dan esensi proker-prokernya pada anggota. Bahkan, anggota juga diajak turun langsung dalam liputan sosial. Mereka nampak sangat antusias dengan kegiatan tersebut.
    Usai sholat maghrib, acara dilanjutkan. Memasuki acara inti, yaitu suksesi, para calon ketua (Ari, Nofita, Winda, dan Deden) memaparkan visi dan misi yang akan diusung untuk memajukan GCK bila terpilih nanti. Setelah itu, musyawarah dilakukan untuk memilih ketua. Berdasarkan hasil musyawarah, terpilihlah Windarti Wahdaningrum (Geografi Lingkungan 2014) sebagai ketua GCK 2016.
    “Pilihan untuk bersedia mengemban amanah adalah sesuatu yang sulit, tetapi bukan tidak mungkin untuk dijalankan. Hal paling penting adalah bagaimana mulai membangun komitmen, berusaha berbuat sebaik-baiknya dan menjadikan amanah itu sebagai prioritas,” tulis Winda ketika dihubungi lewat instant messenger. Selain itu, Winda juga mengajak untuk mulai membangun rasa memiliki terhadap GCK.

  • |

    Cara Menjadi Mahasiswa yang Mahasantuy

    Stoisisme alias filosofi teras kian terasa relevan untuk diterapkan di zaman yang tidak menentu ini. Karena jika kita lihat secara historis, aliran filsafat ini pun lahir di masa peperangan dan krisis.

    Zaman di mana sebagian besar aktivitas kita dihabiskan di media maya, atau yang biasa kita sebut dengan era digital. Kita menjadi pribadi yang berwatak lain saat sedang bermedia social. Kita menjadi seorang yang hobi berdebat, saling silang pendapat, bahkan beberapa ada yang hingga tidak segan menyebar hoax, fake news, dan mem-bully orang tanpa berkaca pada dirinya sendiri.

    Lebih daripada itu, beban hidup kita khususnya yang berstatus mahasiswa semakin hari kian berat. Kita dilanda stress oleh tugas-tugas kuliah yang seakan selesai satu, muncul seribu, uang bulanan yang tak kunjung diberi oleh orang tua di rumah, hingga teman atau pacar yang menyebalkan serta tekanan orangtua untuk ambis dalam mengejar nilai.

    Pulang dari Kampus masih harus berteman dengan udara panas dan polusi kendaraan diiringi oleh macet di Bangjo lampu merah Kota Jogja yang sebagian pengendaranya membunyikan klakson meski lampu lalu lintas belum sepenuhnya berwarna hijau.

    (sumber gambar: youthmanual.com)

     

    Belum habis persoalan di dunia nyata, di dunia maya pun persoalan yang muncul pun tidak kalah pelik. Kita bermain medsos dan tanpa sengaja melihat story ataupun postingan teman yang kita anggap hidupnya dihabiskan hanya untuk travelling, makan enak di kafe-kafe kenamaan dan restoran yang pricelistnya dapat membuat kita kejang-kejang.

    Disinilah relevansi dari aliran Stoisisme. Epictetus, salah seorang filsuf Stoisisme mengatakan: “ada hal-hal di bawah (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita.” Hal ini dapat disebut dengan dikotomi kendali. Jika kita ingin memelajari Stoisisme, maka ini adalah pelajaran yang harus kita ingat sepanjang waktu sehingga pernyataan ini tidak sesederhana kelihatannya.

    Pernyataan Epictetus diatas memiliki maksud bahwa apabila kita fokus pada apa-apa saja yang dapat kita kendalikan, maka kita akan merasa bahagia. Sedangkan ketidakbahagiaan justru berasal dari hal-hal yang kita rasa bisa (dibawah kendali) kita, padahal bukan.

    Yang sudah jelas tidak dibawah kendali kita misalnya, kondisi fisik kita saat lahir, jenis kelamin, etnis, orang tua, cuaca, bencana alam dan fenomena alam lainnya. Lalu, ada pula asumsi yang menganggap bahwa itu berada dibawah kendali kita, padahal sejatinya bukan. Misalnya, pandangan orang lain terhadap diri kita. Reputasi, kekayaan, serta kesehatan juga tidak berada dibawah kendali kita sepenuhnya. Memang, kita bisa mengusahakan agar kesehatan tubuh kita terjaga, namun kita juga tidak dapat menyalahkan apabila sewaktu-waktu kita terserang penyakit diluar keinginan kita. Begitupun dengan kekayaan dan reputasi.

    Yang bisa kita kendalikan adalah pertimbangan (judgment), opini kita, tujuan kita, serta segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri. Bagi filsuf stoa, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan adalah hal yang irasional. Contoh kecilnya saat kita sedang mengerjakan deadline tugas, seberapa sering pun kita sambat deadline kita tidak akan pernah selesai. Yang kita bisa lakukan adalah refleksi diri kenapa tidak kita selesaikan jauh-jauh hari. Stoisisme juga mengajarkan untuk kita dapat positive thinking. Deadline yang menakutkan dapat kita lihat dari sisi positifnya. Misalnya, kita jadi tidak keluar uang untuk bermain atau nongkrong.

    Dari apa yang telah disebutkan diatas, mungkin beberapa diantara kita ada yang menganggap bahwa Stoisisme adalah paham yang mengajarkan untuk pasrah pada kenyataan. Padahal, menerima keadaan atas apa yang tidak dapat kita kendalikan berbeda dengan sikap pasrah.

    Jadi buat kalian semua yang merasa beban hidup di pundak terasa berat hingga ngilu dan nyeri otot, udah jangan lebay. Jadi mahasiswa yang mahasantuy aja! (Naufal)

  • | |

    Varian Covid Delta : Lebih Mutakhir

    Dunia berada pada kondisi buruk akibat terpaan virus Covid-19 yang terjadi pada kuartal akhir tahun 2019. Kemerosotan kondisi ekonomi, penurunan kualitas pembelajaran dan kepanikan adalah salah satu  akibat yang ditimbulkan virus ini. Indonesia sendiri saat ini sedang mengalami fase kritisnya. Hal ini dibuktikan dengan  beberapa fakta yang terjadi di lapangan, seperti meningkatnya angka kematian akibat infeksi, menurunnya kebugaran nakes akibat bertugas tanpa henti, dan melonjaknya jumlah orang yang terinfeksi. Belum selesai melewati masa kritis, datang lagi varian Covid-19 terbaru. Terdapat tiga varian Covid-19 yang baru, yaitu varian Alpha, varian Delta, dan varian Beta. Di antara ketiga varian baru tersebut, yang paling mutakhir adalah varian Delta.  Meski demikian, warga harus selalu berhati-hati. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, kasus pasien yang terinfeksi varian Delta Plus.

    Lantas timbul pertanyaan, bagaimana varian Delta ini menyebar? Bagaimana metode infeksinya? Ketika varian Covid-19 biasa pada tahun 2019 membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menular, maka varian Delta disebut hanya membutuhkan waktu lima hingga sepuluh detik untuk menginfeksi korbannya. Pada bulan April 2020, WHO mengumumkan bahwa varian Delta dapat menyebar melalui aliran udara. Berada dalam satu aliran udara dengan seorang penderita dapat menyebabkan infeksi.

    Sudah sepantasnya bagi kita semua untuk mengetahui dan memahami gejala-gejala yang disebabkan varian Delta. Hal ini perlu kita ketahui sebagai bentuk ikhtiar kita menghadapi pandemi. Berikut karakteristik infeksi varian Delta.

    1. Sakit Perut
    2. Mual
    3. Sakit kepala
    4. Sakit tenggorokan
    5. Pilek
    6. Demam.

    Apabila merasakan beberapa gejala di atas, Kopmania dapat segera menghubungi rumah sakit terdekat untuk melakukan check. Lebih baik mengobati sedari dini dibanding menghadapinya saat parah. Selain mengetahui gejala-gejala varian Delta, kita tentunya juga harus mengetahui tindakan preventif apa saja yang bisa diambil. Berikut beberapa tindakan preventif yang dapat dilakukan.

    1. Kenakan masker (2 lapis lebih baik)
    2. Cuci tangan dengan air bersih mengalir
    3. Hindari tempat ramai yang tertutup
    4. Jaga pola makan
    5. Jaga jarak setidaknya satu meter.

    Dalam kondisi seperti saat ini, pengetahuan terkait informasi terbaru virus Covid-19 sangatlah berguna dan bermanfaat. Lakukanlah hal-hal preventif di atas sebagai salah satu bentuk usaha kita. Virus varian Delta memang sangatlah buas, akan tetapi dengan do’a dan usaha, Tuhan akan menjaganya dari kita. Salam sehat Kopmania!

     

    Sumber gambar sampul : halodoc.com

  • |

    Olimpiade Koperasi Siswa Nasional 2019

    Sabtu, (9/11), Olimpiade Koperasi Siswa Nasional 2019 atau Olikopsisnas kembali diadakan oleh Koperasi “Kopma UGM”. Tema yang diusung kali ini adalah Digitalisasi Koperasi dalam Membangun Startup dan Peran Millenial Menuju Revolusi Industri 4.0. Olikopsisnas  merupakan keberlanjutan dari kegiatan Cooperative Workshop yang digelar beberapa waktu lalu. Terdapat dua perlombaan menarik yang diikuti oleh peserta tahun ini yakni Lomba Cerdas Cermat (LCC) dan Lomba Poster.

    Para peserta mengikuti kegiatan dengan tertib dari awal hingga akhirnya acara. Jumlah peserta adalah  sebanyak 32 tim dimana setiap tim terdiri dari 3 anggota untuk perlombaan LCC dan 10 perserta untuk lomba poster. Sistem perlombaan cerdas cermat dimulai dengan tes tulis individu dan diambil 20 tim untuk melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu tes tulis tim, dan pada tahap ini hanya 5 tim yang dapat lolos dan berjuang di tahap akhir yaitu tahap Cerdas Cermat. Sementara itu, sistem perlombaan poster dimulai dengan presentasi poster yang sudah dibuat kemudian hanya 3 poster yang dapat melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu penyampaian ulang.

    Kegiatan berakhir dengan sesi foto bersama dan pembagian sertifikat untuk seluruh peserta Olikopsisnas 2019. Perlombaan cerdas cermat dimenangkan oleh SMKN 1 Bantul sebagai juara 1, SMKN 1 Turen sebagai juara 2, SMKN 7 Yogyakarta sebagai juara 3, SMAN 2 Bantul sebagai harapan 1, dan SMAN 7 Yogyakarta sebagai harapan 2. Sementara itu, perlombaan Poster dimenangkan oleh Salma Khoirunida sebagai juara 1, Mochamad Firhan sebagai juara 2, dan Vika Agustin sebagai juara 3, serta tambahan kategori pemenang yaitu best essay yang diraih oleh tim dari SMAN 1 Surakarta.

    (Sharmila)